Sedih, Ditinggal Suami dan Keluarganya, Seorang Nenek Hidup Sebatang Kara Di Gubuk Reyot

Nenek yang telah ditinggal suaminya tersebut dikenal warga dengan nama Upiak Ketek. Di usianya yang 70 Tahun, nenek ini hanya bisa menghabiskan kesehariannya berbaring dan bersantai di gubuknya di Jalan Bandes.

Nenek ini tinggal di Punggasan, Kecamatan Linggo Sari Baganti Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel), hidup sebatang kara di gubuk reyot.


Dia tidak lagi bekerja, karena fisiknya sudah tidak sanggup. Sehari-hari, Upiak Ketek hanya mengharapkan belas kasihan dari orang lain untuk menyambung hidup.

Upiak Ketek sebetulnya memiliki dua orang anak perempuan. Namun, nasib mereka juga kurang beruntung dan ditinggal suami yang telah meninggal dunia.

“Saya tidak sanggup lagi bekerja, dulu iya, saya ke sawah dibawa orang. Untuk makan, masih banyak orang yang membantu saya, Allhamdulilah,” ujar Upiak Ketek ditemui Padangkita.com di halaman rumahnya, Kamis (21/5/2020) sore.

Upiak Ketek sudah tinggal di gubuknya sejak tiga tahun lalu. Sebelumnya ia hidup berpindah-pindah dari rumah anak yang satu ke yang lainnya.

"Di sini sudah tiga tahun, dulu saya bangun dari bantuan. Namun setelah saya bangun (gubuk), tidak adalagi bantuan-bantuan (bedah rumah) dari pemerintah,” kata Upiak Ketek.

Soal bantuan Covid-19, Upiak Ketek juga belum mendapatkannya. Dia sendiri juga tidak tahu adanya bantuan dari pemerintah untuk orang yang terdampak Covid-19.

Jika dilihat dari kondisi gubuk Upiak Ketek, maka tentu sangat layak dia menerima bantuan. Gubuk yang yang ditinggalinya terbuat dari kayu yang sudah ringkih. Luasnya hanya 2,5×3 meter persegi.

Dinding gubuk itu terbuat dari kayu, tampak sudah lapuk dan berlubang. Gubuk itu pun tampak condong ke belakang akibat tiang penyangga yang sudah lapuk.

Melihat ke dalam, gubuk itu hanya berlantai tanah, tidak ada sekat ruang. Masuk dari pintu depan, langsung disambut dengan dapur tempat Upiak Ketek biasa memasak. Lanjut ke dalam, terlihat tempat tidur lusuh dan beberapa perabotan seadanya. Kecuali itu tak ada barang-barang lainnya.

Untuk memasak, Upiak Ketek hanya menggunakan tungku dengan bahan bakar dari kayu bekas.

Tempatnya bernaung dari panas terik dan hujan itu pun tanpa penerangan listrik. Jika malam datang dan gelap mulai menyergap, hanya cahaya kecil dari sumbu lampu “togok” yang menjadi sumber penerangan satu-satunya.

Di gubuk itu juga tak ada sumber air bersih seperti sumur atau PDAM. Untuk mandi, mencuci dan keperluan lain, Upiak Ketek pergi ke aliran air yang tak jauh dari gubuknya. Jika tak sanggup, ia menumpang ke rumah tetangganya.

Jika hujan, Upiak Ketek akan sibuk menambal atap rumbia gubuknya yang bocor dengan plastik. Ia hanya bisa tidur jika hujan telah berhenti. Tak jarang, kasurnya terendam karena lantai rumahnya yang dari tanah.

Meski begitu, Upiak Ketek tampak masih cukup sehat. Ia hanya ada gangguan di bagian pendengaran. “Seperti inilah rumah saya, apa adanya yang penting saya senang dan tenang, tidak menyusahkan orang,” kata Upiak Ketek dalam bahasa Minang

Demikianlah pokok bahasan Artikel ini yang dapat kami paparkan, Besar harapan kami Artikel ini dapat bermanfaat untuk kalangan banyak Karena keterbatasan pengetahuan dan referensi, Penulis menyadari Artikel ini masih jauh dari sempurna, Oleh karena itu saran dan kritik yang membangun sangat diharapkan agar Artikel ini dapat disusun menjadi lebih baik lagi dimasa yang akan datang

Sumber : Berbagai Sumber Media Online

0 Response to "Sedih, Ditinggal Suami dan Keluarganya, Seorang Nenek Hidup Sebatang Kara Di Gubuk Reyot "

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel